Dokter Geology

  Sudah dua tahunan ini saya sering merasakan kram pada perut sebelah kiri, kalau rasa kram itu tiba, tidak perduli sedang menstruasi atau tidak, rasanya pertama sledut-sledut biasa di usus, lalu menjalar ke tulang belakang hingga rasanya seperti di kucek-kucek, di remes-remes, wajah saya bisa mendadak pucat kalau kram datang, lalu rasanya bertambah parah seperti di tusuk tusuk jarum, seakan belum puas menyiksa saya, kram di perut melaju secepat kilat bertambah besar hentakan kedutannya, hingga perut dan tulang ekor seperti di gebukin balok kayu, tubuh saya bisa terkapar dan  sekarat walau tidak sampai mati… kadang hanya 1-2 jam, saya bisa bawa istirahat dan tidur, kadang bisa seharian, tapi kalau sampai berhari-hari berturut-turut… kalau sudah begitu saya tetep minum obat sehari 3-5 kali, dan masih beraktivitas secara normal tidak bisa seenaknya libur karena harus ke pasar, memasak, mengantar dan menjemput dsb… ya di tahan-tahan sakitnya, kadang berjalan sambil mrecing-mrecing menahan sakit.

 Sebenarnya saya sudah mencoba menyembuhkan kram di perut kiri saya dengan berbagai cara, mulai dari yang alami, meditasi usadha/ penyembuhan dengan teknik pernafasan yang saya pelajari dari buku kundalini, hingga menanyakan pada dokter poliklinik umum. namun kebanyakan saya hanya bisa sedikit terbantu dengan meminum obat analgesik seperti Oskadon atau Panadol biru yang sifatnya bisa menghilangkan rasa sakit sementara tetapi tidak bisa menyembuhkan penyakitnya, dan rasa kram itu akan datang dan datang lagi kapan sesuka-sukanya, ibarat jaelangkung datang tak di jemput, pulang tak di antar…

 Selama ini yang bisa saya lakukan adalah hanya menerima, karena tidak ada hal lainnya yang bisa saya lakukan kecuali hanya bersabar menerima penyakit ini… namun hanya satu yang belum sempat saya lakukan, yaitu memeriksakan diri ke dokter ahli penyakit dalam atau kalau keluhan penyakit di sekitar perut wanita otomatis ya harus ke dokter ahli kandungan…

 Terus terang saya selama ini merasa malu kalau harus memeriksakan diri ke dokter spesialis begituan, karena first saya belum pernah menikah and tak pernah hamil, lha kalau saya mendatangi tempat semacam itu, nanti apa kata dunia?!!… pasti semua teman atau tetangga ngrasani/ mengguncingkan yang enggak-enggak, terutama keluarga bisa terpukul di kira ada apa-apa dan telah terjadi apa-apa dengan saya…

 Duuhh, serba dilema memang… tapi mau tidak mau, siap tidak siap, saya harus memeriksakan kondisi saya ke penyakit bagian dalam, sebagai alternative terakhir dari serentetan terminology  kisah kram di perut saya, supaya bisa di temukan penyebab dan penyakit apa yang sedetil-detilnya…

 Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu tiba, pada tgl 5 september 2012 siang kemarin sayapun memeriksakan diri ke Rumah Sakit setempat, saya mencari-cari informasi setibanya di loket antrian pasien, saya mencoba mendaftarkan diri dan bertanya pada pegawai loketnya… “Mbak, saya mau ke dokter geology”… kata saya datar, si mbak jadi senyum-senyum melihat kepolosan saya, ia menjawab “Dokter Ginekology?”… agak malu saya menjawab…  “itu lho mbak, yang memeriksa penyakit bagian dalam wanita”… si mbak itupun menjelaskan “ Oh ya, itu ginekology, dokter kandungan, ini nomer antriannya”… saya melihat antriannya urutan nomer 6 …“ makasih mbak”… agak males dan lemes saya mengambil tempat duduk untuk menunggu…

 Saya lihat di sekeliling saya banyak orang-orang berobat yang di temani teman dan keluarga mereka, ada yang di temani suami, di temani ibu dsb, sedang saya hanya datang sendirian… mendadak rasa kalut menyeruak dalam diri saya, saya takut dan malu, bagaimana kalau nanti seandainya dokter menemukan penyakit aneh dalam tubuh saya?… akankah saya siap menerima kenyataan ini?… bagimana jika, bagaimana dan bagaimana, sejuta pertanyaan horor menghantui perasaan saya…

 Suster penerima pasien di pintu masuk terlebih dahulu mengecheck tensi darah saya, dan ternyata tekanan darah saya rendah hanya 90, untuk menghalau kegalauan hati saya, saya mencoba berbincang dengan suster… “ Mbak, ibu dokternya namanya siapa?”… lalu di jawabnya dengan santai… “ Semua dokter kandungan laki-laki nggak ada yang perempuan”… Whaaaattt??!!!… belum selesai kekalutan yang ada dalam diri, kini saya harus shock mengetahui bahwa dokter yang akan memeriksa saya nanti seorang laki-laki??!… saya tidak hanya malu tapi juga merasa nggak nyaman kalau urusan wanita di ketahui laki-laki… dsb dst… dada rasanya berdegup kencang tak karuan… antara takut dan malu…

 Dan akhirnya tibalah giliran saya, dokter dengan bersahaja menyambut saya dan menanyakan keluhan yang saya derita, dan sayapun menceritakan rasa kram pada perut kiri, lalu dokter mencoba memeriksa saya… “ Coba mbaknya berbaring, perutnya saya USG ya?”… heehh??… waduh mati aku, batin saya… “ maaf, celananya di turunin dikit ya?”… pinta dokter, saya pun hanya menurut saja… walau di ruang itu juga di temani suster perempuan, tapi tetep saja saya gelisah…

 Pertama perut saya di kasih lotion gel… lalu dokter meratakannya dengan alat USG yang langsung hasilnya terlihat di gambar monitor tv di depan saya… Pak dokter itu menggeser-nggeserkan alat USG-nya ke kiri ke depan ke atas dan ke bawah perut saya… kali ini saya sedikit terhibur, rasa tegang yang sedari tadi berkecamuk mulai cair… perut saya terasa adem dan geli… hi hi hi… lucu ada gambar perut dan rahim saya di tv, pak dokter bilang, tidak ada penyakit dalam rahim, semua sehat, letak posisi rahimnya normal, otot perutnya juga nggak ada masalah, kalau ada penyakit kanker atau tumor kan pasti udah terdeteksi oleh monitor… komputer secara otomatis juga menscan rahim saya, panjangnya 7,5 cm dan lebar 4,6 cm,  ukuran rahim yang normal untuk rata-rata setiap wanita. Lalu dokter mengangkat kaki kanan saya yang di sanggah dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memeriksa menekan-nekan perut saya, apa sakit?.. saya bilang tidak, lalu berganti mengangkat kaki kiri saya, dokter menekan-nekan perut saya dengan tangannya, apa sakit?… saya bilang tidak sakit.

 Hanya beberapa menit, semua proses selesai, kami pun duduk saling berhadapan seperti sedia kala, sambil ngobrol tanya jawab, dokter memberikan saya resep obat Analsik Methapyrone 500 mg, Diazepin 2 mg. Obat ini untuk melemaskan otot kram yang kaku kalau-kalau kramnya kambuh bisa di minum… saya bilang ke dokter, biasanya saya minum obat Spasminal untuk penghilang kram, lalu pak dokter bilang, spasminal itu untuk gangguan di dalam perut misal nggak bisa buang air besar atau nyeri haid, sedang mbaknya kalau pas nggak nyeri datang bulan kramnya muncul berarti itu ototnya yang kaku, jadi pak dokter hanya memberi obat pelemas otot yang kaku saja.

 Pada kesempatan itu, sekalian saya juga memberanikan diri bertanya perlukah suntikan anti kanker servik jika belum berumah tangga?… dokter menegaskan, suntikan imunisasi anti kanker itu penting dan nggak harus menunggu setelah menikah, malah bagusnya sebelum menikah, Di negara kita nanti akan ada wacana pentingnya pemberian vaksinasi untuk kanker serviks/ mulut rahim untuk semua wanita sejak dini, yaitu pada umur 12 th wajib di berikan vaksinasi ini… karena orang yang terkena penyakit kanker mulut rahim ini nggak selalu yang sudah pernah berhubungan badan, tetapi penyakit itu juga bisa bersumber dari kuman atau bahkan penyakit keturunan. Seperti halnya AIDS yang kena nggak hanya orang yang sering gonta-ganti pasangan saja, tetapi penyakit itu juga bisa menular melalui jarum suntik bekas, transfusi darah, karena keturunan dsb.

Saya terkesima dan merasa puas dengan informasi dokter, di akhir pertemuan saya bertanya pada dokter sekali lagi, lalu sebenarnya saya ini mengidap penyakit apa?… kata dokter : nggak sakit apa-apa, mbaknya cuman kecapekan saja, kecapekan sejak lama dan akhirnya berakumulasi/ mengumpul pada saat sekarang.

Terlepas dari apakah saya masih lama akan menderita kram iniJawaban dokter itu tentu saja tidak hanya melegakan tapi sangat  sangat membahagiakan saya… bahwa saya bebas dari penyakit kanker atau tumor di perut yang saya khawatirkan selama ini ternyata tidak terbukti… rasanya hati ini gembira dan terharu banget, Saya keluar dari rumah sakit dengan hati berbunga-bunga, rasanya ingin ku dedandangkan sebuah lagu Zamrud Khatulistiwa ciptaan Guruh Soekarno Putra, yang syairnya… “Aku bahagia… hidup sejahterah di khatulistiwa”… Lepaslah sudah sedikit beban deritaku selama ini, beban pertanyaan –pertanyaan yang menghantui dalam pikiranku selama ini…

                                          ***

 Setiba di rumah, saya mencoba merenungi kata-kata dokter, teringat beberapa tahun silam, sebagian wakil rakyat kita yang ingin memulai wacana kesehatan wanita lebih spesifik lagi, namun sayang saat ini Undang-Undang yang tersedia baru sebatas undang-undang KDRT, perdagangan manusia, perlindungan anak dan tentang pornografy, rinciannya sebagai berikut:

 UU No.21 Tahun 2007 ttg PTPPO Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

UU No.23 Tahun 2002 ttg Perlindungan Anak Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

UU No.23 Tahun 2004 ttg Penghapusan KDRT Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

UU No.44 Tahun 2008 ttg Pornografi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi

 Hal inilah yang masih menjadi polemik sekaligus perjuangan para sebagian wakil rakyat, di negara yang masih berkembang di mana kesehatan belumlah menjadi prioritas yang utama, di tambah maraknya kasus korupsi yang menggerogoti sendi- sendi dana bangsa, membuat kesejahteraan dan kesehatan wanita belumlah menjadi perhatian yang vital. Para wakil kita pada waktu itu juga mengkritisi pembuatan UUD anty pornografy yang notebenenya sudah di atur dalam KUHP, namun toh tetep si sahkan dengan dana milayaran rupiah.

Saya merasa terketuk sekali pada nasib masa depan saudari-saudari seluruh tanah air. Hmmm… Saya jadi membatin jika memang ada undang-undang yang bertujuan untuk melindungi wanita, apa tidak sebaiknya dana pembuatan undang-undang krisis moral itu di alokasikan untuk mendanai vaksinasi seluruh perempuan indonesia secara gratis dan Cuma-Cuma?!… bukankah itu lebih real dan nyata, seperti halnya pemberian vaksin polio secara gratis dan Cuma-Cuma untuk seluruh anak indonesia, jika indonesia di masa depan ingin generasinya terbebas dari polio, penyakit lumpuh layu yang menyerang pada anak-anak…

 Indonesia negri yang kaya, subur dan makmur namun sayangnya sebagian besar pemerintahnya belumlah cerdas mengelolah sumber daya manusianya. sungguh sesuatu yang ironi, negri yang elok, cantik nan indah, namun penyakit kanker serviks masih menjadi momok penyakit yang mematikan di negri ini, negri yang terkenal dengan kecantikan, keramah tamahan dan halus lembut wanitanya, namun posisi wanitanya sungguh sangat lemah dan riskan terkena penyakit kanker mulut rahim karena tidak mudahnya akses mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan yang seharusnya menjadi haknya… semua itu karena kelalehan pemerintah dalam melindungi wanitanya, tonggak tulang punggung pertiwi bangsanya sendiri…

  Saya merasa beruntung sekali, padahal kalau melihat faktanya, penyakit ini adalah penyakit yang paling mematikan bagi wanita, tak terbatas dari kalangan, golongan, satatus, latar belakang pendidikan atau ekonomi. Dari gadis-gadis desa hingga wanita-wanita kota, dari perempuan-perempuan pekerja hingga ibu-ibu pejabat,  semua bisa berpotensi terkena virusnya, maka sangatlah penting vaksin anty kanker mulut rahim ini untuk semua wanita indonesia di seluruh pelosok daerah. 

  Saya yang hanya rakyat kecil dan tidak tidak pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi ini hanya bisa berharap semoga pemerintah lebih memiliki kesadaran untuk memperhatikan kesejahteraan kesehatan reproduksi masyarakatnya, harusnya masalah ini menjadi akses yang mudah bagi setiap wanita sejak dini, tidak seperti saya yang telat memeriksakan diri karena selain persoalan ekonomis juga kurangnya sosialisasi kesehatan serta stigma masyarakat yang menganggap bahwa wanita yang memeriksakan kandungannya semestinya yang sudah menikah. Padahal mendapatkan akses kesehatan terutama kesehatan reproduksi dengan mudah adalah hak istimewah setiap individu.

 Semoga pengalaman saya bisa bermanfaat kepada yang lainnya, khususnya pada pemerintah, terutama untuk para wanita yang minimal harus berani bertanya jika tidak mengerti, untuk selanjutnya berani mengambil keputusan sekaligus berani menyampaikan pendapatnya…

 * Note : Saya memberi judul ‘ Dokter Geology’ karena kepolosan saya menyebut Dokter Kandungan yang seharusnya ‘ Dokter Ginekology’… untungnya saya tidak salah menyebut ‘ Dokter Geografy’ … he he he…

 

 

Advertisements

14 thoughts on “Dokter Geology

  1. Pingback: Iringan Doa Ibu untuk Perjuangan Hidup | inspirasi.me

    • @ Paman Dalbo,

      Rahayu Paman pangestunipun 🙂 … Paman bisa aja, mungkin saya yang salah berobat, harusnya saya berobat ke dokter cinta, bukan ke dokter geology… xixixixixi…

      salam senyum,

      dewi

  2. Operator tolong di reflay adegan yang ada percakapan:
    “ maaf, celananya di turunin dikit ya?”… pinta dokter, saya pun hanya menurut saja…
    soalnya tadi aku lagi kebelet pipis xixixixiiii,


    SEMOGA
    bu guru selalu sehat dan baik selalu

  3. Dewi terimakasih pengalamannya telah ditulis, karena kebetulan minggu kemarin mengalami sakit perut juga dan dikasih spasminal, tapi belum diminum, karena trauma sama efek samping dari obat. Karena sakit perut yg sedang dirasakan inipun akibat dari obat yg diberikan oleh dr ahli dalam terlalu bagus jadinya terlalu keras bt lambung maka yg terjadi perut jadi panas dan sembelit, kl aku mencoba minum remasan daun randu plus sedikit garam, Alhamdulillah sembelitnya reda, panas lambungnya juga ilang dan yg paling penting bab jd lancar.
    Ada hal ygpositif lagi dari tulisanmu dew, suamiku pernah mengalami sakit persis kyk yg dialami oleh dewi dan dg pasminal sktnya gk reda, jadi obat yg dewi minum saya tulis, bt jaga2 jika hal tsb teralami kembali
    Salam kenal dewiiiiiii

    • @ Mbak Tita,

      Maturnuwun dan salam kenal juga mbak, maaf telat merespons, akhir-akhir ini kalau saya inguk-inguk sepi dan jarang pengunjungnya 😉 … he he he…

      Saya turut prihatin dengan apa yang menimpa lambung mbaknya, padahal udah di bawa ke dokter yang mahal sekalipun, iya mungkin itu dosisnya mbak. dan juga apa yang menimpa suami mbaknya, biasanya sembelit yang disertai kram hebat bisa juga berasal dari gejala wasir atau ambaien, kalau masih ringan masih bisa di bujuk rayu dengan obat/ alternatif, tapi kalau udah stadium lanjut, memang sebaiknya harus ada tindakan atau di oprasi.

      Kalau saya kadang minum oskadon/ panadol biru, tapi kadang nggak mandhi, saya disarankan minum 2 tablet sekaligus biar dosisnya tinggi, dan memang bisa mengurangi nyeri, tapi kalau keseringan juga akhirnya tambah menter/ bandel sakitnya.

      obat Spasminal itu bisa di beli di apotik tanpa resep dokter, kalau saya sudah menghentikan pemakaiannya, tapi sebaiknya berkonsultasi dulu pada dokter, takutnya nanti nggak cocok, karena setiap orang beda satu sama yang lainnya, kecuali hanya obat yang mengandung paracetamol saja yang umum beredar.

      Terima kasih juga resep herbal alaminya, saya terkadang suka minum teh herbal yang alami, semacam herbal infusion, misal godhokan daun sirsak, mahkota dewa dsb, bunga rosella saya juga suka, tapi sayangnya lambung saya nggak tahan dengan rasa asamnya yang kecut.

      Oh ya, ini saya juga suka nulis-nulis resep masakan, resep teh rempah herbal infusion juga ada di dalamnya, kalau mbaknya ada waktu silahkan mampir ya 🙂 …

      http://dapurdiajeng.wordpress.com/

      Salam sehat,

      Dewi

  4. Dew,
    sorry
    Pencet sana sini
    Tiba tiba di sini

    O, ya sekilas ada…keluhan sakit.
    ” yen bingung kaos mu walik en “, joke darah pesisir Jawa timur.an
    Sakit dibalik…kitas….sikat…
    Sikat fikiran negatif pada rasa yg “datang”
    Bukan musuh sakit itu, rasa sakit adalah temen yg kadang datang menjenguk kita.
    Saat ” rasa nyaman ” datang….( … Sakiiittt….tadi yg katanya suaaa kidung teman )
    ” Hai kau sahabatku, makasih ya udah menjengukku. Belajar menikmati teman yg kadang menjenguk tadi.
    Belajar menikmati rasa tadi.

    Kalau dilatih benar, dari hati yg welas pd semua. Termasuk rasa tadi.
    Ini cerita pribadi ya..
    Di ‘ cium ‘ api rokok. Nyaman, biasa rasanya.
    Ok met, berlatih.

    • @ SUARA,

      Inggih benar itu mas, sakit itu tandanya tubuh kita minta di perhatikan, dan kita juga tidak seharusnya mengutuk penyakit itu, melainkan bisa bersahabat dengannya.

      Seorang teman pernah menyarankan saya untuk selalu mengirimi ‘cinta’ pada bagian tubuh yang sedang sakit dengan cara di elus2 dan juga di doai sendiri dalam hati, dengan begitu ia merasa diperhatikan dan juga tidak dipersalahkan 🙂

      Terima kasih atas masukannya, sekiranya bisa di latih, segera ku walik kaosku… xixixixi….

  5. PENDAPA AGENG

    Tindak pundi kemawon
    Kagem mbak, jeng, ning, bu dewi
    Sehat sehat kemawon to….
    Pendapanipun mbok ya disambangi
    Eman tenan
    Wonten kahanan menapa mawon
    Saged legawa, sabar, sumeleh
    Tinuturan babagan kawruh Jawi,re rembagan pari kena
    Saling nglengkapi kawruh Jawa
    Sae, kagem sederek lintu.
    Kados tiang ngelak tinemu unjukkan
    Mugi mugi seger waras.
    Saged nampi sedaya kahanan
    Salam saking dalem

  6. Salam kenal untuk Dewi yang berapa kali ya? Ke-3 mungkin, jikalau Dewi yang berkomentar di dongengbudaya……Saya pernah baca buku yang membahas soal sakit seperti yang Dewi alami, semua itu penyebabnya karena kelenjar-kelenjar yang tidak seimbang dikarenakan menjelang haid dan akan sembuh dengan sendirinya jika sudah menikah Hehehe……

    • @ Moch Nachli,

      Terima kasih mas Nachli, surprised sekali njenengan berkunjung di ruang diary. iya bener saya yang suka komment di dongbud, ya kalau lagi kumat isengnya saja 😀 … he he he…

      Iya mungkin ketidakseimbangan hormon atau kelenjar dalam tubuh mengakibatkan nyeri itu. tapi ada juga lho wanita yang tidak pernah merasakan nyeri haid/ dilepen. temen saya malah bilang : “dilepen itu apa sih mbak? aku dari perawan sampai sekarang udah anak-anak kok nggak pernah merasakan sakit waktu haid.”… duh, bikin ngiri rasanya.

      Saya pernah konsultasi ke dokter (lagi), dan yang dikatakannya mungkin sama seperti buku yang njenengan baca, memang nggak semua wanita beruntung, dan konon penyebab utamanya adalah karena pinggul rahim yang sempit, namun nanti jika sudah berumah tangga terutama jika sudah pernah melahirkan maka ‘jalan’ nya akan membuka-normal dan otomatis akan bisa memutuskan urat nyeri yang bikin sakit haid selalu kambuh itu.

      Dua bulan lalu, atas saran teman saya mencoba meminum jamu tetes ‘Soman’ di apotik, jamu tsb di ekstract dari buah-buahn dan sayuran, dan memang bisa membantu dan terasa agak redahan. juga sekarang saya akali : beberapa hari sebelum datang bulan, saya sebisanya pergi massage, supaya tubuh rileks, tidak kecapekan dan uratnya melemas/ tidak tegang. dengan terapy relaksasi ternyata juga ampuh bisa mengurangi nyeri haid yang berlebihan.

      Dan saya sangat bahagia dan baik-baik saja hingga kini 🙂 …

      Maturnuwun, rahayu…

  7. Pengalaman saya, abis minum obat ini saya langsung alergi, ruam merah.. kelopak, telapak tangan dan kaki bengkak dan setelah beberapa saat saya pingsan dan langsung dilarikan ke RS, setelah disuntik baru reda alerginya…

    • Mbak Uwie,

      Saya turut berduka, jangan di teruskan minum obat kalau gitu, kemungkinan mbaknya mengidap alergi obat.

      Kalau menurut pengalaman saya pribadi, mengkonsumsi obat Spasminal atau penghilang rasa nyeri terus-terusan juga sangat berbahaya, pernah saya sampai mengalami maag akut, sampai di endoskopi ternyata lambung saya terkena erosi akibat obat-obatan kimia dalam jangka waktu panjang.

      Untungnya saya bisa dipulihkan dengan obat penahan nyeri yang masih bisa bersahabat dengan lambung, namanya Sanmol*Forte, harganya juga murah dan mudah di dapatkan di toko obat. jadi kalau ada rasa nyeri sakit hebat, ambil saja sanmol forte, nggak berbahaya bagi lambung, itu nasehat Dokter.

      Salam selalu seger waras ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s